Selasa, 03 Desember 2013

Praktikum II


Pengalaman Saya Berakhlak Terhadap Allah                                               


Nama : Khusnul hidayah
Kelas : KPI 1 D
NIM : 1113051000159

Pengalaman ini saya alami sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu saat saya masih duduk di kelas 2 SMA. Saat itu ada seorang ustadz pelajaran Ta’limul Muta’alim sedang menceritakan pengalaman pribadi beliau pada saat beliau masih sekolah dulu tentang puasa 7 hari dengan maksud memohon kepada Allah supaya dimudahkan untuk menghafal. Dan tanpa berpikir panjang saya langsung mencoba apa yang sudah beliau jelaskan tadi.

Puasa itu dilakukan 7 hari berturut-turut, dan waktu itu saya bersama beberapa teman niat mulai puasa pada hari Senin. Saat itu hanya beberapa anak yang mau mengamalkan dikarenakan mayoritas teman-teman saya tidak begitu peduli dengan saran ustadz tersebut. Dalam menjalankan puasa itu ada beberapa hal yang harus dilakukan seperti:
1.      Selama puasa 7 hari itu kita harus membaca surat An Nasr setiap selesai sholat fardu sebanyak 7 kali.
2.      Berbuka dengan air yang ditaruh dalam wadah, yang wadah tersebut sebelumnya sudah ditulisi dengan surat An Nasr namun dalam bentuk tulisan perhuruf hijaiyah tanpa disambung dan tanpa harokat mengunakan polpen cair atau spidol supaya mudah larut jika disiram air.
3.      Puasa berturut-turut jika tidak itu dianggap gagal dan mengulang dari awal lagi u harus dilakukan.
4.      Tawakal dan yakin.

Setelah kita menyelesaikan puasa itu, entah karena sugesti atau memang benar-benar berhasil, kita merasakan dimudahkan dalam hal menghafal pelajaran yang sebelum kita melakukan puasa itu, kita merasa susah sekali untuk menghafalnya. Kita juga lebih  fokus dan mudah dalam menangkap pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh para guru. Dalam praktik ibadah kali ini, keyakinan dan kepasrahan atau keikhlasan sangat diperlukan untuk kesuksesan atau keberhasilan dari apa yang kita inginkan.


Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, amalan ini bisa dilakukan berulang-ulang kali dengan cara yang sama. Silahkan anda membuktikan sendiri mamfaat dari amalan ini. Segala  sesuatu berasal dari Allah dan hanya kepada-Nya lah kita berhak meminta. Segala puji bagi Allah atas segala kebesarannya. 

Laporan Ahklak II



ISI LAPORAN

                                                              
Nama               : Destiana Maisratun
NIM                : 1113051000155
Kelas               : KPI.1D
Tema               : Pengalaman Saya Berakhlak Kepada Allah SWT
Judul               : Mengaplikasikan Kebiasaan Berakhlak Baik dalam Kehidupan Sehari-hari
Assalamu’alaikum Wr.Wb
            Pertama kali saya ingin membicarakan akhlak kepada Allah SWT. Mangapa umat Islam harus berakhlak kepada Allah? Tentunya karena Allah sebagai khalik (Maha Pencipta) dan kita sebagai umat-Nya melakukan perbuatan yang seharusnya dilakukan atau diperintahkan oleh-Nya. Pertama-tama saya ingin menceritakan tentang akhlak saya kepada Allah STW. Saya sebagai umat muslim yang menganut kitab Al-Qur’an yang disana terkandung kebenaran dan sikap-sikap yang baik dilakukan maupun tidak. Tentunya sejak saya kecil, saya sudah diajarkan bagaimana shalat walaupun pada saat itu belum sempurna. Kedua orang tua saya mengajarkan untuk tidak berbohong dan berbuat baik kepada sesama tentunya dalam beribadah.
Semenjak kecil saya ingin mengetahui untuk apa saya shalat? Dan jawabannya adalah sebagai umat muslim kita diwajibkan untuk shalat, ini salah satu cara untuk dekat kepada Allah SWT. Saya dijelaskan kepada kedua orang tua saya dan guru mengaji saya sewaktu kecil karena Allah kita diciptakan dan kepadanya kita kembali. Lambat laun saya pun mengerti agama saya. Ketika saya mendapatkan suatu masalah, kegelisahan, kebahagiaan dll saya bercerita kepada Allah. Alhamdulillah saya selalu merasa dalam keadaan bersyukur ketika mengalami masalah atau musibah. Karena sesungguhnya bersama masalah akan ada kemudahan.
Berakhlak kepada Allah karena Dia yang menciptakan manusia. Seperti dalam Surah At-Thariq ayat 5-7 yang berbunyi : (5). “Maka hendaklah manusia memperlihatkan diri apakah dia diciptakan?” (6). “Dia tercipta dari air yang terpancar” (7) “Yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada”.
            Terkadang saya memikirkan bahwa saat saya bersyukur telah diberikan kelengkapan panca indera, pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan tubuh yang sempurna (tidak cacat) itu membuat saya semakin cinta kepada Allah. Dia Maha Tahu apa yang di butuhkan oleh umatnya walaupun dalam setiap doa yang saya panjatkan terkadang tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Namun Allah memberi apa yang saya butuhkan bukan yang saya inginkan. Membicarakan soal akhlak dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita harus ikhlas dalam menjalankan perintah-Nya dan ikhlas menolong sesama manusia. Ikhlas saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari salah satunya adalah melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati mengharapkan Ridha Allah, tulus membantu teman atau siapapun yang kesulitan selagi saya bisa dan dalam jangkauan kemampuan saya.
Selain itu saya diajarkan berakhlak tawadu, saya tidak meyukai sombong dan saya menanamkan kepada diri saya bahwa kita harus banyak belajar dari orang lain bahwa banyak sekali ilmu yang didapatkan dari pengalaman orang lain. Kemudian berperilaku sopan terhadap orang yang lebih tua, teman atau yang lebih muda. Karena berperilaku sopan itu indah dan sangat terpuji. Saya pernah bimbang dalam memilih dua pilihan yang saya harus pilih. Saat itu saya menyukai kedua pilihan tersebut. Saat saya shalat istikharah alhamdulillah saya dimimpikan yang berhubungan dengan pilihan saya tersebut. Saya pun memilihnya, sejak saat itu segala sesuatu yang diperlukan untuk saya Allah selalu ada untuk saya.
Bertawakkal kepada Allah juga saya lakukan saat saya sudah berusaha dengan semaksimal mungkin dan usaha itu saya serahkan kepada Allah seperti ketika Ujian Masuk Perguruan Tinggi saya selalu belajar dengan maksimal. Saya bersyukur usaha yang saya lakukan membuahkan hasil dan berserah diri kepada keputusan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Segala sesuatu yang saya lakukan akan terasa mudah jika kita selalu mencurahkan isi hati saya kepada Allah karena dengan cerita kepada-Nya lah beban yang saya punya sedikit berkurang.
Tidak ada hentinya selalu saya ucapkan rasa syukur atas nikmat yang telah saya miliki. Melihat banyak yang masih dibawah saya. Demikian cerita saya tentang akhlak kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Wassalamu’alaikum wr.wb

Senin, 02 Desember 2013

AKHLAK TASAWUF PRAKTIKKUM II



Disusun Oleh : Rachma Maulidia (1113051000190)
KPI ID
 


Tema    : “Pengalaman saya berakhlak terhadap Allah SWT”
Judul    : “Syukur ku atas nikmat dan cobaan Mu”

Bismillahirrahmanirrahim,
Nikmat dan cobaan dalam hidup silih berganti berdatangan dalam hidup ini. Kadang kita berada di atas dan juga kadang kita berada dibawah. Kadang kita menangis dan kadang kita bahagia atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Sering kali kita lupa bersyukur jika kita sedang mendapat limpahan rezeki yang berlebih dari Allah SWT. Namun, pada saat kita mendapat masalah atau cobaan, tak henti-hentinya kita memohon ampun kepada-Nya.Termasuk saya sendiri.
Berbagai problema hidup telah saya tempuh. Kadang menyakitkan dan juga kadang terasa indah. Banyak juga pelajaran kehidupan yang telah saya terima. Contohnya adalah saat saya mendapat cobaan hidup dari Allah SWT berupa cobaan materi atau finansial. Ayah saya berhenti bekerja. Mau tidak mau ibunda pun turut menopang finansial agar kami bisa terus bertahan hidup. Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Beruntung saya mempunyai kakak perempuan yang menurut saya tidak neko-neko dan mengerti keadaan keluarga. Setelah kakak saya lulus dari SMA, dia pun memutuskan untuk langsung bekerja dan menunda kuliah. Saat itu saya masih SMA kelas 2. Ibunda saya bekerja dengan berjualan jajanan ringan di SD. Dan ayah saya bekerja serabutan. Pada saat itu banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Namun, karena keadaan kami pun hidup dengan sederhana dan apa adanya. Saat itu sempat saya berfikir mengapa Allah SWT tak adil dan mengapa keluarga saya harus mengalami keadaan yang seperti ini. Saya pun sudah pasrah akan kehidupan saya. Namun, saya melihat ada sinar semangat dari orang tua saya terutama dari ibunda saya. Beliau tak henti-hentinya berkerja banting tulang untuk kami. Sholat tahajjud dan sholat dhuha pun  tak pernah beliau lewatkan. Pada sampai saatnya saya sadar saya harus seperti ibunda saya, tak pernah berhenti meminta kepada Allah SWT agar cobaan yang kita dapatkan cepat berlalu. Saya mulai dari sholat dhuha terlebih dahulu. Saya mendapat kenikmatan tersendiri dari sholat dhuha tersebut. Malam harinya saya langsung mengerjakan sholat tahajjud. Saya menangis. Disitulah saya sadar betapa kecil dan hinanya saya dan betapa Allah SWT sangat sayang kepada saya. Saya sadar cobaan yang saya terima adalah bukti cinta Allah SWT kepada kita agar kita semakin dekat kapadaNya. Betapa Allah SWT menegur kita dengan caraNya sendiri. Dan itu adalah nikmat sekaligus cobaan terindah untuk saya.
Sampai saat ini Alhamdulillah keadaan finansial sudah mulai membaik. Rezeki pun datang dari arah mana saja. Sholat dhuha, tahajjud, dan amalan-amalan lain pun terus saya jalani. Saya merasa bersyukur atas nikmat Allah SWT. Terima kasih Ya Allah, semoga limpahan rezeki dan Rahmat selalu memayungi langkah hidupku dan keluargaku. Aamiin.

Praktikkum III Akhlak Tasawuf

Cara mudah mendapatkan Qurbah/Maiyah

Nama : Rachma Maulidia (1113051000190)
KPI 1D.


Judul :   Pengalaman saya (Rachma Maulidia) mengamalkan dan mendalamkan surat Ar-Rahman setelah setiap sholat fardhu/setiap saat.
Bismillahirrahmanirrahim.
Ar-Rahman, begitu indah surat Allah yang satu ini. Allah Yang Maha Pengasih. Hanya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mengamalkan surat Ar-Rahman setelah setiap sholat fardhu membuatku menyadari betapa Allah sangat menyayangi kita umat manusia atas nikmat dan karunianya. Nikmat yang sebetulnya secara sadar atau tidak sadar sudah ada sejak Allah menciptakanku sebagai manusia dan  menghembuskan nafas pertama di dunia ini. Melalui orang tua pula Allah mengajarkan  pandai berbicara agar saya dapat membaca Al-Qur’an terkhusus Q.S.Ar-Rahman.
Mengamalkan serta mendalami Q.S.Ar-Rahman setelah shalat fardhu juga membuat saya sadar bahwa Allah SWT adalah penolong, pelindung, pembimbing, dan Allah juga Maha Melihat atas apa yang saya kerjakan. Terkadang apa yang saya lakukan banyak terjadi kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu, tak henti-hentinya saya meminta ampun atas dosa dan kekhilafan yang telah terjadi dan selalu meminta kepada-Nya agar selalu diberkahi dan selalu dalam lindungan-Nya. Padahal setiap waktu Dia (Allah SWT) selalu dalam kesibukan, namun saya tahu bahwa Allah selalu sayang terhadap umatnya dan selalu mendengarkan setiap keluh kesahnya.sifat
Ar-Rahman adalah salah satu dari sekian banyak sifat Allah, yang mengandung makna pengasih kepada seluruh makhluknya didunia tanpa terkecuali, baik makhluk yang taat maupun yang mengingkarinya. Maka dari itu melalui surat ini pulalah saya dan kita umat manusia agar selalu taat dan patuh terhadap perintah-Nya dan senantiasa menjauhi larangan-Nya agar hidup kita menjadi berkah dan selalu diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin.
PRAKTIKUM AKHLAK TASAWUF III
                                
Nama :Khairunnisa Permata Sari.
Kelas:Kpi 1 D.
Nim:1113051000160

Pengalman saya (khairunnisa permata sari) mengmlkan surat ar-rahman.
Surat ar-rahman ini adalah surat  yang termasuk kalam Allah,betapa indahnya jika kita mengerti lalu mengamalkan dengan hati yang tulus dan ikhlas.   Dalam surat ini sudah jelas bahwa Allah itu maha pengasih dan maha pemurah kepada setiap makhluknya  disini allah telah mengajarkan kepada kita semua  dalam mengmalkan  al-Qur’an,tanpa pernah kita minta sesuatu apapun,tanpa kita minta  allah pun telah memberinya duluan kepada makhluknya (kita semua).
Allah telah mengajarkan kita pandai dalam berbicara, banyak sekali fungsi yang bisa kita manfaatkan dari segala nikmat yang telah allah berikan kepada kita semua.
Yakinlah kepadanya bahwa allah adalah kasih dari yang maha pengasih,penolong,pelindung, bagi semua makhluknya.Allah tidak pernah pandang bulu kepada semua makluknya, Allah maha pelihat dan mendengar segala apa pun yang dikerjakan oleh makhluknya,allah tau di tempat mana sajakan kita mengerjakan hal-hal yang tidak diinginkannya atau yang dilarangnya(dosa) maupun ditempat terang atau gelap sekalian.
Jika kita rajin untuk membaca,mempelajari arti,lalu mengamalkan isi dari surat ar-rahman ini maka kita akan tau betapa indahnya ciptaan allah,betapa murahnya kasih allah,dan betapa kasih dan sayangnya allah kepada setiap hambanya  mau pun hambanya yang sungguh-sungguh atau yang ingkar kepadanya .Ingat lah bahwa  janji allah akan indah kepada setiap makhluknya.
Janganlah kita melanggar hukum – hukumnya dan,patuhilah semua perintah-perintahnya dan jadilah hamba yang taat kepadanya.

PUNCAK PENGALAMAN PERTEMUAN DENGAN ALLAH ITU MENJADI HAMBA ALLAH


BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

PUNCAK PENGALAMAN PERTEMUAN DENGAN ALLAH ITU
MENJADI HAMBA ALLAH

Allah SWT. menciptakan manusia tujuannya untuk beribadah, menyembah Allah, dan menjadi hamba Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. 51:56).

Puncak pengalaman pertemuan dengan Allah adalah menjadi hamba Allah. Hanya hamba Allah yang bisa menjadi kekasih Allah, dan hanya kekasih Allah yang bisa menjadi khalifah-Nya yaitu wakil Allah di muka bumi.

Hamba Allah adalah orang yang mengetahui dan menyadari bahwa segala yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah, termasuk jiwa-raga, dan dirinya sendiri (QS. 2:255; 20:6). Hamba Allah adalah orang yang mengetahui dan menyadari bahwa Allah itu Pemilik, Penguasa, Pengatur, Penjaga, Pemelihara, Pembimbing, Penolong, Pelindung, dan Yang Mengurus seluruh ciptaan-Nya.

BISMILLAAHIRAHMAANIRRAHIIM


SEJUJURNYA SAJA
ADA LEBIH BANYAK RAHASIA ALLAH
YANG BELUM KITA KETAHUI DAN TIDAK KITA KETAHUI
BELUM DIPERHATIKAN MANUSIA DAN TIDAK TERPIKIRKAN MANUSIA

  1. Pada umumnya kebanyakan orang tidak tahu bahwa Allah itu adalah Ralitas yang sebenarnya, Al-Haqq, kenyataan yang sebenarnya, wajibul wujud bi Dzatihi (Wajib wujud-Nya dari segi dirinya sendiri).

Sedangkan yang selain Allah itu wujud pinjaman, wujud tergantung, wujud penampakan, atau wujud ciptaan, (mumkinul wujud bidzatihi dan wajibul wujud bighairihi—wujud yang mungkin dari segi dirinya, tetapi wajibul wujud dari segi lainnya, yakni dari segi penciptanya).