BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
PUNCAK
PENGALAMAN PERTEMUAN DENGAN ALLAH ITU
MENJADI HAMBA ALLAH
Allah SWT. menciptakan manusia tujuannya untuk beribadah, menyembah Allah,
dan menjadi hamba Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. 51:56).
Puncak pengalaman pertemuan dengan Allah adalah menjadi hamba Allah.
Hanya hamba Allah yang bisa menjadi kekasih Allah, dan hanya kekasih Allah yang
bisa menjadi khalifah-Nya yaitu wakil Allah di muka bumi.
Hamba Allah adalah orang yang mengetahui dan
menyadari bahwa segala yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah, termasuk
jiwa-raga, dan dirinya sendiri (QS. 2:255; 20:6). Hamba Allah adalah orang yang
mengetahui dan menyadari bahwa Allah itu Pemilik, Penguasa, Pengatur, Penjaga,
Pemelihara, Pembimbing, Penolong, Pelindung, dan Yang Mengurus seluruh ciptaan-Nya.
Hamba Allah adalah orang yang bisa menjalin hubungan pribadi dengan
Allah melalui tauhid. Hamba Allah adalah orang yang bisa bermitra kerja dengan
yang Maha Kuasa melalui taqwa. Hamba Allah adalah orang yang bisa bersinergi
dengan kekuatan Allah yang tidak terbatas melalui tawakal.
Hamba Allah adalah orang yang bertauhid, bertaqwa, dan bertawakal.
Bukan hanya tauhid, taqwa, dan tawakal sebagai keyakinan dan pernyataan, tetapi
juga tauhid, taqwa, dan tawakal sebagai kenyataan atau sebagai realitas yang
sebenarnya.
Dengan bertawakal sebagai kenyataan atau dalam tataran kenyataan, manusia
bisa merasa satu kekuatan dengan kekuatan Allah yang tak terbatas dan tidak
terbagi, karena dalam kenyataannya memang tidak ada kekuatan kecuali kekuatan
Allah yang tak terbatas (Laa haula wa laa
quwwata illa billah).
Dengan bertaqwa dalam tataran kenyataan atau sebagai kenyataan, manusia
bisa merasa satu kehendak dengan kehendak Allah, karena dalam kenyataannya
manusia memang tidak bisa menghendaki jika Allah tidak menghendaki manusia bisa
berkehendak. “Dan kamu tidak dapat
menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (QS.
81:29).
Dengan bertauhid dalam tataran kenyataan atau sebagai kenyataan, manusia
bisa merasa satu pengetahuan dengan pengetahuan Allah, karena segala sesuatu
berasal dari Allah dan kembalinya juga kepada Allah (termasuk semua pengetauan)
(QS. 2:156).
Cara mudah dan terbaik untuk bisa merasa satu kekuatan dengan kekuatan
Allah, merasa satu kehendak dengan kehendak Allah, dan merasa satu pengetahuan
dengan pengetahuan Allah adalah shalat yang khusyuk.
Dalam shalat yang khusyuk,
manusia itu berada di hadirat Allah, sedang menghadap Allah, sedang menemui
Allah, sedang berbicara dengan Allah, dan sedang berdoa kepada Allah (QS.
2:45-46). Itulah sebabnya, Rasulullah menjelaskan bahwa shalat itu “Mi’rajul mukminin” (Mi’rajnya
orang-orang yang beriman)
Dalam shalat yang khusyuk, manusia bisa merasa mengetahui dengan pengetauan
Allah, manusia bisa merasa menghendaki dengan kehendak Allah, dan dalam shalat
yang khusyuk manusia bisa merasakan seluruh aktifitasnya dalam shalat, yaitu
seluruh gerakan dan bacaan dalam shalatnya berlangsung dengan Qudrah, Iradah,
dan Ilmu Allah.
Dengan kata lain, shalat yang khusyuk adalah shalat yang dikerjakan dengan
hati yang penuh perasaan, yaitu perasaan sedang berada di hadirat Allah,
perasaan sedang menghadap Allah, dan perasaan sedang berbicara, berkomunikasi,
dan berdoa kepada Allah.
Oleh sebab itu, jika shalat itu dikerjakan dengan khusyuk pasti bisa
mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, karena jika manusia khusyuk
dalam shalatnya dan di luar shalatnya, maka dia pasti bisa selalu merasa dekat
dengan Allah (Qurbah), pasti bisa merasa selalu bersama Allah (Ma’iyah), pasti
bisa merasakan dan mengalami pertemuan dengan Allah (Liqa’ Allah), pasti bisa
merasa mencintai Allah, dicintai Allah, dan menjadi kekasih Allah (Mahabbah).
Dengan demikian jelaslah bahwa
puncak pengalaman pertemuan dengan Allah itu menjadi hamba Allah. Itulah puncak
pengalaman pertemuan dengan Allah yang tertinggi. Itulah sebabnya Nabi Muhammad
sebagai manusia yang telah mencapai puncak pengalaman keagamaan yang paling
tinggi dan paling sempurna disebut sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya (“Abduhu
wa Rasuluhu). Sedangkan puncak pengalaman keagamaan tertinggi yang bisa dicapai
oleh manusia selain Nabi dan Rasul-Nya adalah hamba dan khalifah-Nya.
Akhirnya, semoga Allah SWT. memberi kita semua kekuatan dan kesanggupan
serta memudahkan kita semua untuk bisa mengenal Allah, bisa selalu merasa dekat
dengan Allah, selalu merasa bersama Allah, bisa merasakan dan mengalami
pertemuan dengan Allah (Liqa’ Allah), bisa menjadi hamba Allah dan bisa selalu
merasa mencintai, dincintai, dan menjadi kekasih Allah. Aamiin Yaa Rabbal
‘Aalamiin wa Yaa Mujiibas Saailiin Walhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.
Jakarta, 24-5-2013
S. Hamdani
CATATAN
PERHATIAN:
Informasi lebih lanjut bisa diakses melalui internet dengan
alamat webs: kajianliqa’allah.webs.com
atau
klik kata kunci Pusat Kajian Liqa’ Allah,
atau bisa copy kumpulan brosurnya,
dan mengikuti program kajiannya, email:
hamniah@gmail.com/08158824119
Tidak ada komentar:
Posting Komentar