Selasa, 03 Desember 2013

Praktikum 2 Akhlak Tasawuf

Nama                           : Endah Dewi Cahyani
Kelas/Semester            : KPI D/1
Tema                           : Pengalaman Saya Berakhlak Terhadap Allah
Judul                           : Mengenal Rasulullah dalam Kehidupan

Kriiiiing.. Alarmku berbunyi, Bergegas ku bangun dan menuju kran di kamar mandi. Dingin. Yah memang sewajarnya. Karena subuh ini ditemani hujan yang cukup lebat. Mengguyur desa dari tadi malam hingga kini. Subuh ini benar-benar mengujiku. Mungkin terlalu banyak godaan tak nampak di subuh ini.
Yah inilah aku, anak kedua dari empat bersaudara, dari keluarga biasa. Perawan tertua di keluarga, anak terbanyak ulah pula. Bagaimana tidak, dari setengah enam lalu bapa dan mamah sudah menggedor-gedor pintu kamarku. “endah…bangun, sekolahnya telat loh”, “endah…kalo abis subuh jangan tidur lagi”, “endah kalo bangun siang tu nanti rezeqinya dipatok ayam loh”, “endah…”, “endah…”, “endah…”, terlalu banyak kata endah, seakan semua ditujukan hanya padaku, tanpa terkecuali.
Rumitnya hari ini, sekolah sejauh empat belas kilo meter harus kulalui dengan waktu tiga puluh menit. Dalam benakku, aku hanya tidak ingin terlambat masuk pelajaran matematika nanti, atau mungkin lebih parah. Guru yang tidak memperbolehkan masuk, atau pintu gerbang yang sudah ditutup. Aku hanya berharap hari ini aku merasa sedikit tenang sekalipun dalam keadaan tertekan.
Tak terasa dengung keras bel istirahat berbunyi. Bergegas ku go canteen dengan teman-teman separuh kelas. Tapi. Tak terlihat jelas, namun nyata. Aku melihat seorang anak anak kecil, umurnya berkisar 4 tahun yang menuju mushalah wanita diujung sana. ‘anak siapa yah, ko kecil-kecil pergi sendirian dilingkungan SMA. Padahal, ga ada guru yang suka bawa anak deh’. Gumamku.
Penasaran dengan anak itu yang ku fikir ia tersesat dan mencari ibunya, ku langkahkan kaki menuju mushalah wanita dipojok sana. Yang memang jarang dipakai karena letaknya yang tidak strategis. Tidak seperti masjid sekolah yang berada ditengah lingkungan sekolah. Ketika masuk pintu luar, ku dengar gemericik air. ‘seperti ada yang sedang berwudlu’ fikirku. Ku langkahkan kaki menuju tempat berwudlu wanita yang memang agak tertutup, tidak seperti tempat berwudlu laki-laki disebelah sana. Ku hentikan langkah, ku toleh deretan keran disana. Namun tak kudapati seorangpun disana. Entah tersirat dari mana ku ingin membersihkan mushalah ini. Setelah ku bersihkan, rasanya ingin sekali ku shalat Dhuha disini.
Khusyuk dalam shalat dan do’a dhuha, dentangan bel tanda istirahat usai pun memulai tugasnya. Mata pelajaran selanjutnya adalah Agama Islam, kali ini membahas tentang surah Al-baqarah mengenai khalifah yang berujung membahas manusia pertama yang diciptakan Allah. Ternyata tak lain jawabannya adalah Rasulullah SAW. Penasaranku berkelanjutan, dan kucari buku-buku atau website sejarah perjalanan dakwah dan riwayat hidup Rasulullah. Dalam buku menjelaskan bahwa ruh Rasulullah SAW sudah diciptakan 5000 tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam AS. Ini juga yang menjadi salah satu keistimewaan Rasulullah SAW, menjadi manusia pertama yang diciptakan Allah SWT, meski masih tanpa raga tetap saja membuktikan bahwa Rasulullah SAW memang manusia pertama yang diciptakan Allah. Ruh Rasulullah SAW disimpan di langit ketujuh sampai kelahirannya yaitu pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 21 April tahun 571 M.
Subhanallah. Apa pula yang kurang dari dalam diri Rasulullah. Aku jadi bangga dengan menjalankan syariatnya, menjalankan sunahnya. Apalagi tadi hatiku berubah senang dan tenang setelah menjalankan shalat sunah dhuha.
Entahlah, semenjak saat itu aku mulai tertarik pergi ke perpustakaan untuk membaca sejarah-sejarah Rasulullah. Seseorang manusia yang patut dan sangat, sangat, sangat pantas untuk diteladani. Panutan bagi seluruh umat, tanpa terkecuali. Setetes demi setetes air mata selalu jatuh saat ingat perjuangn Rasulullah membela agama Allah.
Sepertiga malam sejak kejadian ini, aku jadi sering menjalankan ibadah shalat tahajud. Alhamdulillah. Walau tak terlalu sering. Dan karena Rasulullahlah aku belajar memaknai hidup dengan penuh arti. Apalah arti kehidupan dunia ini bila tak pernah ada cahaya darinya.

Rasulullah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar