|
Reny Nur Aini, kpid 2013 |
.
Ku
hirup udara segar pagi itu, dengan penuh ketenangan. Ku hirup dalam-dalam
sampai terasa dalam paru-paru. Sejuk, segar, damai. Ku injakkan kaki ini di
stasiun kereta deket rumah. Aku baru tiba dari liburan panjangku di Ibu Kota.
Rindu yang sangat aku rasakan, ku peluk ayah dan ibuku. Setelah lama melepas
rindu aku teringat bahwa hari itu adalah pengumuman hasil UN ku. Segera ku
bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah temen-temen ku udah
ngumpul di depan ruang TU. Setelah lama menunggu akhirnya apa yang kun anti
dating juga. Alhamdulillah, ucapan syukur tak henti-hentinya keluar dari mulut
ini. Ku bergegas untuk pulang dan menceritakan semua kepada kedua orang tua ku.
Mereka pun ikut merasakan apa yang aku rasakan waktu itu. Namun kebahagian itu
tak lama setelah ayah menanyakan tentang study ku selanjutnya. Aku punya banyak
mimpi yang mungkin terlalu tinggi. Aku pengen menjadi seorang programmer, hanya
itu yang ada di angan ku. Ku mencoba mengikuti SNMPTN 2012 sama SPMBPTAIN 2012,
aku mendaftar di 5 universitas ternama di pulau ini. Aku pajang foto
Universitas favorit ku termasuk UIN jkt, dan ku tulis semua impianku di situ.
Ku temple di sudut tembok kamarku, yang bisa aku pandang setiap bangun dan
tidur. Namun, semua terasa sia-sia semua universitas menolakku. Allah tidak
adil. Allah tidak membayar semua usahaku. Sedih, nangis, serasa semua udah
berakhir. Cuma itu yang aku lakuin tanpa mikir apa kesalahanku.
Kakak minta aku untuk melamar kerja
di bank, sulit rasanya. Tak sedikitpun aku punya skill di bidang itu. Allah.
Kenapa hidup sesulit ini? Merenung. Tak cukup satu hari aku melakukan hal itu.
Dari situ aku merasa deket banget sama sang pencipta. Aku membaca buku tentang
religi, di perpus, Koran, majalah yang berhubungan dengan religi, bahkan sering
untuk pergi ke took buku membeli buku-buku religi. Dari situ aku banyak
membaca, banyak mengetahui tentang keEsaan Allah. Namun sebuah kutipan yang di
tulis oleh ustadz yusuf Mansur yang sampai saat ini masih teringat yaitu jadi, ketika kita merasa susah, sedangkan
kita tahu bahwa diri kita memang penuh dengan dosa dan maksiat, seharusnya saat
itu juga kita sudah tahu bahwa nuansa kesusahan yang sedang kita hadapi bukanlah
ujian melainkan azab.
Astaghfirullah, kalimat itu yang membuat aku terus beristighfar. Memohon ampun
kepada Allah. Tidak sepatutnya aku menyalahkanNya. Aku terus memohon ampun,
memohon petunjuk, ku luangkan setiap malam ku untuk bermuhasabah kepadaNya.
Beberapa hari kemudian, aku enyah
dari keterpurukan itu. Beberapa ide muncul, ku coba mendaftarkan diriku di
kampung inggris sambil menunggu pendaftaran perguruan tinggi di buka. Namun
kampung inggris masuk bulan desember, gak mungkin aku jadi parasit keluarga.
Dengan skill yang pass-passan dalam bidang photografi akhirnya aku melamar di
sebuah studio photo, dan Alhamdulillah aku di terima. Alhamdulillah, sedikit
demi sedikit pintu Allah terbuka untukku. Dua bulan aku bekerja dengan gaji
yang pass-passan juga. Namun dari situ aku dapat ilmu lebih yang bisa aku
gunakan di masa mendatang kelak. Desemberpun tiba, aku tinggalkan pekerjaanku
untuk melanjutkan belajarku. Aku belajar bahasa inggris yang mungkin pelajaran
ini tidak aku sukai dulu. Namun aku berjuang, aku yakin semua ilmu pasti
berguna, Allah meninggikan derajat orang yang berilmu. Ikhlas aku jalani. 6
bulan selesai. Dari yang gak bisa berbahasa inggris sama sekali Alhamdulillah
sekarang sudah bisa. Pendaftaran perguruan tinggipun telah di buka. Aku
mendaftar di UIN Jakarta dengan persetujuan keluarga. Aku sedikit pesimis,
karena mata pelajaran yang aku pelajari di bangku sekolah dulu telah hilang
begitu saja. Aku mulai belajar, dan itu otodidak, tanpa ada guru les, namun
semangatku mengalahkan rasa malasku. Dengan melibatkan Allah dalam segala
urusan, aku praktikan betul kata-kata ustadz Yusuf Mansur tersebut. Temen-temen
membuat aku semakin bimbang dengan pilihanku. Namun kata ayah aku gak boleh
ambil tes lain, aku Cuma ambil tes Mandiri di UIN, pesan ayah focus pada satu
tujuan itu lebih baik dari pada banyak tujuan tapi tidak focus. Ku ikuti kata
beliau. Ketika ujianpun ku sempatkan shalat dhuha di sela-sela waktu ujian
sampai-sampai aku telat masuk untuk tes yang ke dua. Doa ku waktu itu, ya Allah
ini kemampuan hamba dan ini usaha hamba, hanya kepadaMu hamba memohon, engkau
Maha Kuasa. Tunjukkan jalan hamba. Doa yang terus aku lantunkan dalam hati
meskipun waktu itu tes yang aku hadapi serasa sangat sulit, usaha telah aku
lakukan dan hanya doa yang mengiringi ujian tes ku waktu itu. Dengan penuh
keyakinan bahwa Allah mengiringi setiap langkahku. Selesainya ujian, aku
pulang. Dari situ aku semakin senang mempelajari syariat islam.
Aku buka facebook ku untuk update
info. Ada seorang pengguna facebook yang membagikan tautan yang bertuliskan
Detik-Detik waktu yang sangat berharga:
1. Waktu 1/3 malam. Karena pada waktu itu Allah turun
ke langit yang paling rendah. Barang siapa yang berdoa maka akan di kabulkan.
2. Waktu di antara adzan dan iqomah. Saat menunggu
shalat berjamaah. Bahwa doa tidak akan di tolak pada waktu itu.
3. Pada waktu sujud ( sujud syukur, sujud tilawah,
sujud syahwi )
4. Sehabis shalat fardhu / shalat jum`at.
5. Ketika imam shalat jumat naik ke atas mimbar samapi
selesainya shalat jum`at.
6. Waktu terakhir setelah ashar.
Dan aku tergugah untuk melakukannya. Alhamdulillah
sepanjang menunggu pengumuman SPMB Mandiri UIN jkt aku bener-bener
mengamalkannya. Sepanjang puasa aku mengamalkan itu. Pengumuman diumumkan
tanggal 3 agustus 2013 tapi pada tanggal 1 agustus aku pulang kampung bersama
kakak, macet sangat sampai-sampai tiba di rumah pukul 3 dini hari.
Pengumumanpun sudah keluar, banyak temen yang sms suruh segera buka hasil
pengumuman. Namun aku mencoba tenang, aku shalat dan berdoa semoga besok pagi
adalah pagi yang sangat cerah bagiku. Setelah shalat aku segera tidur karena
kecapean. Sekitar jam 8 pagi aku mencoba membuka pengumumannya, dengan penuh
cemas, takut, sedih, seneng, semua campur. Dengan ucapan
bismillahirrahmanirrahim aku buka dan Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah,
aku di terima di KPI. Namun sedihnya, 8 teman seperjuanganku tidak ada yang
masuk. Namun Alhamdulillah wa syukurillah aku bisa kuliah di tempat yang aku
inginkan meskipun dengan prodi yang gak begitu di inginkan. Namun aku yakin
Allah menghargai semua ilmu. insyaAllah bermanfaat J
Teringat semua mimpi-mimpi yang aku tulis dan aku
temple di tembok kamarku. Keajaiban tulisan dan mimpi. Semua akan Allah
wujudkan namun kita tidak tahu kapan itu. Allah lah yang Maha Tahu yang
terbaik. Nah, dari kejadian itu aku sadar, Allahlah yang Maha Menentukan. Allah
tahu yang terbaik. Dan selalu teringat dengan kata-kata ustadz Yusuf
Mansur “Libatkan Allah dalam setiap
Urusan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar